cerita

Separuh Yang Hilang

Terbang rasanya hati gadis itu. Hatinya berbunga-bunga saat ia menjadi pilihan di antara sekian gadis. Si pemuda akan meminangnya. Terbayang di benak si gadis betapa akan sangat indah menapak hidup bersama sang pujaan. Dunia terasa dalam genggaman jemari, juga akhirat. Betapa tidak?! Pemuda itu penghapal Al-Quran, menjadi imam dan khatib di Masjid Hay. Tak pernah absen berjamaah. Hidup bersamanya, pikir gadis itu, adalah surga dunia dengan dikelilingi malaikat penebar kedamaian dan kebahagiaan. Tak ada pintu masuk tuk penderitaan!

Ibu si gadis meminta suaminya mencari informasi tentang jati diri si pemuda. Sambil tersenyum, sang suami menjawab, “Kepada siapa lagi aku akan bertanya?! Bertawakal saja kepada Allah. Nasab pemuda itu bagus. Dari wajahnya tampak jika dia pemuda yang rajin mengerjakan shalat.”

Perkawinan pun dilangsungkan. Si gadis memasuki kehidupan yang ia anggap sebagai surga.

Namun, si gadis salah sangka. Suaminya ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Jati diri suaminya terungkap. Si gadis berada di bawah ketiak pemuda yang tak bertanggung jawab.

Kening pemuda yang berhias bekas sujud itu tak henti mengerut. Lidahnya yang selalu berzikir itu mengeluarkan kata-kata kotor. Wajahnya yang bercahaya selalu berpaling setiap kali sang istri bicara atau menanyakan sesuatu.

Lebih tragis lagi, tangan yang selalu digunakan untuk bertakbir dalam shalat ia gunakan untuk mukul istrinya bila sedikit saja terjadi perselisihan. Dan, kaki yang tak terhitung berapa kali ia langkahkan ke masjid ia gunakan untuk menendang apa saja ketika marah.

Pupus sudah kebahagiaan yang didambakan si gadis, berganti kegetiran. Perasaannya terkoyak oleh kemunafikan. Ia tak percaya melihat suaminya sama sekali tidak mencitrakan kepala keluarga muslim. Ia teringat kata-kata bijak sang suami tentang silaturahmi, sebelum menikah. Tentang keberadaan rumah sebagai kiblat. Tetapi, ingatan itu segera terhapus oleh perilakunya yang kasar. Hampir gila ia dengan kehidupan semacam itu.

Si gadis membayangkan, suaminya mengerjakan shalat begitu lama, seolah-olah sedang berada di hadapan malaikat. Begitu selesai, ia berganti baju menjadi manusia yang tak seorang pun menyangka ia pernah mengerjakan shalat, meski satu rakaat!

Ketika ia berusaha mengingatkan, sang suami menganggapnya tak beradab. Ketika ia minta persoalan rumah tangga diajukan ke pengadilan, sang suami menolak dan tetap bersikeras merasa tidak bersalah. Ketika ia mengadu kepada ayahnya, sang ayah justru menuduhnya telah menjelek-jelekkan pria baik secara berlebihan.

Si gadis akhirnya mengadu kepada ibunya. Sang ibu menjawab dengan gelisah, “Saya kira Musa, ternyata Fir’aun … Bersabarlah, Anakku. Semoga Allah memberi pahala.”

Sang ayah akhirnya meyakini kebenaran pengaduan dan keluhan putrinya. Ia malu dan tidak berani memandang istrinya yang marah.

“Bukankah dulu kubilang: cari tahu pria itu!” kata si istri.

Tahun demi tahun, bulan demi bulan berlalu. Sang suami seperti sudah tuli. Tak bisa menerima nasihat, tak mau berinstropeksi diri, dan tak ada tanda-tanda akan kembali ke jalan yang benar.

Si ayah kini tak berdaya. Tokoh-tokoh agama atau masyarakat yang diminta tolong untuk memberi nasihat pun tak lagi bisa berharap pemuda itu baik. Sang ibu hanya bisa menangis dan tak henti-hentinya meminta putrinya bersabar.

Begitulah … Si gadis meneguk kegetiran hidup. Si ayah menelan penyesalan. Si ibu terselubung kesedihan. Dan, sang suami, di antara perilaku buruknya, tetap seperti dulu: membaca Al-Quran di masjid dengan suara merdu. Di sela itu, si istri menyaksikan televisi. Lantunan Al-Quran suaminya terdengar. Pada saat yang sama, seorang ustaz di televisi sedang berbicara tentang memilih pasangan hidup dengan mengutip hadis Nabi: Jika engkau dilamar oleh orang yang menurutmu agama dan akhlaknya baik, terimalah! Jika tidak, akan muncul keburukan dan kebejatan.

Air matanya berlinang. Tangannya menggenggam keputusasaan dan kehampaan. Ada yang mengganjal dalam benaknya: kebenaran prinsip memilih jodoh yang diajarkan Nabi hanya separuh yang ia dapatkan. Separuh yang lain entah di mana.
***

Dr. Majdi al-Hilali, “Agar Al-Quran menjadi teman”, Zaman. cet. ke-1, 2011. Kutipan berjudul “Separuh yang hilang” dimuat di majalah al-Zuhur.
***

Iklan

7 tanggapan untuk “Separuh Yang Hilang”

      1. Salam kenal juga. Sebenarnya aku sdh pernah menyapa juga di blog ini di konten Ayam geprek sambil nonton bola gitu. Tapi sepertinya koment tidak dimoderasi gitu๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s